1. Wanita lebih cenderung melakukan konformitas daripada pria.
2. Orang yang emosinya kurang stabil lebih mudah mengikuti kelompok daripada orang yang emosinya stabil.
3. Semakin tinggi kecerdasan, semakin kurang kecenderungan ke arah konformitas.
4. Motif afiliasi akan mendorong konformitas sementara motif berprestasi, motif aktualisasi diri, dan konsep diri yang positif akan cenderung menghambat konformitas.
5. Semakin tinggi hasrat berprestasi seseorang, maka semakin tinggi kepercayaan dirinya, dengan demikian semakin sukar ia dipengaruhi oleh tekanan kelompok.
Akan tetapi, semua pernyataan yang disebutkan di atas harus dilihat dalam hubugannya dengan faktor-faktor situasional. Orang yang kepercayaan dirinya tinggi pun akan terpengaruh oleh kelompok dalam situasi ambigu. Konformitas tidak terlalu jelek, juga tidak selalu baik, artinya bergantung pada situasinya juga.
Untuk nilai-nilai sosial yang dipegang teguh oleh sistem sosial, konformitas diperlakukan. Untuk keberhasilan moral, kita memerlukan konformitas. Akan tetapi, untuk perkembangan pemikiran, untuk menghasilkan hal-hal yang baru dan kreatif, konformitas tentu saja merugikan (Hollander, 1975).
Fasilitas Sosial
Fasilitas sosial sebetulnya bukan istilah yang tepat karena dalam beberapa hal, kehadiran kelompok justru cenderung menghambat pelaksanaan kerja. Istilah ini mungkin tepat dipergunakan untuk penelitian-penelitian awal dalam psikologi psikologi sosial.
Pada tahun 1924, Floyd Alport menemukan fakta bahwa fasilitas sosial tidak selalu memudahkan pekerjaan. Kehadiran kelompok bersifat fasilitatif bila pekerjaan yang dilakukan berupa pekerjaan keterampilan yang sederhana. Sebaliknya, kelompok mempersukar pekerjaan bila pekerjaan itu berkenaan dengan nalar dan penilaian.
Polarisasi
Polarisasi ini menurut sebagia para ahli boleh jadi disebabkan pada proporsi argumentasi yang menyokong sikap atau tindakan tertentu. Bila proporsi terbesar mendukung sikap konservatif, keputusan kelompok pun akan lebih konservatif dan begitu sebaliknya (Ebbesen dan Bowers, 1974).
Polarisasi mengandung beberapa implikasi yang negatif. Pertama, kecenderungan ke arah ekstremisme menyebabkan peserta komunikasi menjadi lebih jauh dari dunia nyata: karena itu, makin besar peluang bagi mereka untuk berbuat kesalahan. Produktivitas kelompok tentu menurun. Gejala ini disebut oleh Irving Janis sebagai groupthink.
Polarisasi akan mendorong ekstremisme dalam kelompok gerakan sosial atau politik. Kelompok seperti ini biasanya menarik anggota-anggota yang memiliki pandangan yang sama. Ketika mereka berdiskusi, pandangan yang sama ini semakin dipertegas sehingga mereka bertambah yakin akan kebenarannya. Keyakinan ini disusul dengan merasa benar sendiri (self-righteousness) dan menyalahkan kelompok lain.
Proses yang sama terjadi pada kelompok saingannya. Terjadilah polarisasi yang menakutkan di antara berbagai kelompok dan di dalam masing-masing kelompok. (Myres dan Bishop, 1970).
Refensi Bacaan:
1) Rakhmat, Jalaludin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
2) Tutiasri, Ririn, Puspita. 2016. “Komunikasi dalam komunikasi kelompok” Vol. 4, No. 1 (hal. 81-90). Yogyakarta: Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
3) Bungin, Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.
4) Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi: Teori & Praktik. Universitas Mercu Buana.
Terimakasih sudah berbagi. Teruslah menulis karena akan abadi.
BalasHapus